Kamis, 01 Juni 2017

Mulai Usaha Modal 500 Ribu Kini Omzetnya Miliaran Sebulan

Arthur Graham | Berkembang pesat dalam waktu singkat dan memiliki potensi besar untuk pengembangan lebih lanjut. Itulah perjuangan modal kecil kudapan manis Lapis Sangkuriang Bogor yg dibangun oleh Rizka Romadhona (29) , yang melaju memenangkan kontes untuk Wanita Wirausaha Mandiri versi majalah Femina tahun 2013.

Di balik lezatnya kudapan manis lapis tersebut , itu merupakan perjuangan rumahan yang menjanjikan hasil dedikasi , kerja keras , visi , dan cara pengelolaan yg baik sehingga beliau bisa menghasilkan peluang untuk perjuangan menjadi lebih besar lagi.

Mengasah Naluri Usaha Mulai Sejak Masih Kaprikornus Karyawan

Sore itu , di Jalan Padjadjaran Bogor , gerai kudapan manis Lapis Sangkuriang , tampak penuh sesak wisatawan. Anehnya , meskipun dikatakan produk habis terjual dan akan ada lagi pada jam 2 siang , para pengunjung tidak bergerak keluar dari toko. Meskipun untuk itu pelanggan rela harus menunggu hingga satu jam. "Penuh sesak tiap hari ibarat ini ," ujar Rizka , si pemilik usaha.

kue lapis bogor

Apa yang unik wacana perjuangan modal kecil kudapan manis lapis ini , yang membuatnya diminati orang hingga sedemikian rupa? Warna kuning dan ungu lapisan kudapan manis bertabur keju memang lezat dan lembut. Uniknya , dibuat dengan tepung talas sebagai materi pokoknya.

Seperti kita ketahui , talas yaitu jenis makanan kecil yang sering ditemukan di kota Bogor. Bisnis Rizka ibarat souvenir dari Bogor , dengan kotak kemasan yang dirancang khusus dan apik. Dalam kemasan juga ada lokasi wisata di Bogor , untuk kemasan produk edisi Green Tea bahkan termasuk peta Bogor di dalamnya.

Siapa sangka , seorang wanita jatuh dalam urusan ekonomi makanan ini yaitu lulusan Institut Teknologi Elektronik (ITS) Surabaya. Sebagai sarjana , beliau pernah kerja di perusahaan komunikasi adegan teknik listrik. Jabatan terakhirnya pengelola proyek. "Dari awal saya telah secara teratur menjual apa pun yang bisa dijual , ibarat pakaian. Kemudian , ketika saya bekerja di kantor , saya jual bakso ," kenang wanita kelahiran Surabaya , 15 Juni 1984 ini.

Dilakoninya order-oleh-order ketika bekerja mulai jam 9 pagi hingga 5 sore , Rizka memulai usaha modal kecil dengan suami , Anggara Kasih Nugroho Jati (29) yg juga alumnus dari ITS , mulai menghitung. "Jualan secara paruh waktu saja menghasilkan pemasukan lumayan cukup besar , apalagi kalau dilakukan secara penuh ," pikirnya. Itulah alasan , kenapa beliau terjun secara full time urusan ekonomi jualan bakso.

Selain membuka stan dengan ukuran 2x3 meter di sentra perbelanjaan , serta memberi pasokan bakso ke penjual lain. Sayangnya , setelah sekitar 3 tahun beroperasi , omzet perusahaan terus menurun setelah mitra satu per satu menutup outlet mereka maka Rizka terpaksa juga menutup usahanya. Waktu itu , beliau juga menderita kerugian sehingga harus menjual kendaraan beroda empat , sepeda motor operasional dan masih ada tunggakan cicilan rumah hingga 4 bulan yang sudah jatuh tempo.

Dalam kondisi serba kekurangan , suami dan dirinya mencari logika untuk merintis usaha modal kecil baru. Akhirnya terpikirlah melirik urusan ekonomi souvenir. Di mata Rizka , Bogor yaitu kota wisata yang potensial. Tentu saja , setiap tamat pekan selalu ramai orang jalan-jalan ke Puncak. Ini yaitu salah satu kesempatan besar untuk bekerja di urusan ekonomi pariwisata.

"Karena saya dari Surabaya , saya terkesan dengan lapis Surabaya. Kemudian terpikirlah untuk membuat kudapan manis lapis Bogor ," kata Rizka yang mengaku tidak lihai memasak. Sejak itu , Rizka mencoba praktek membuat kudapan manis lapis hasil resep dari ibunya dan berusaha keras hingga berhasil.

Ide membuat kudapan manis sudah diperoleh. Selain itu , Rizka berupaya biar kudapan manis lapisnya dari bahan-bahan lokal asli Bogor. "Tak sedikit makanan khas Bogor , ada peyeum , talas , ubi jalar panggang juga. Kami mencoba untuk menaikkan nilai talas lebih baik lagi ," Rizka , yang memulai usahanya dengan modal 500 ribu dan alat mixer milik mertuanya .

Kunci Sukses: Efisiensi dan Inovasi

Memperkenalkan produk makanan gres kepada masyarakat merupakan pekerjaan rumah yang lumayan berat. Konsumen pertama dari perjuangan rumahan yang menjanjikan ini ialah tetangga , sobat akrab dan sobat pengajian. Selain pesanan dari teman-teman , Rizka juga lapisnya pasar terus menerus ke instansi pemerintah.

Rizka memahami , sebagai pengusaha modal kecil pemula , sangat penting untuk memulai jaringan. Dia sering mengikuti bazar yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah. Dari korelasi itu , ia bisa masuk ke dalam jaringan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Rizka juga mendapatkan lisensi untuk membuka stan jualan di hotel atau restoran di tempat Puncak ketika ada aktivitas diklat atau meeting dari instansi pemerintah.

Rizka juga ikut training dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag) untuk memperbaiki desain kemasan. Sampai kesudahannya , beliau membuka toko kecil sendiri pada bulan Desember 2011 , di Jl. Sholeh Iskandar , Bogor. Sekarang , beliau memiliki 2 toko , yakni di Jl. Pajajaran dan Rumah Makan Raffles di Puncak , Bogor.

Ketika pertama kali dibuka , nama kudapan manis Lapis Bogor masih ajaib buat masyarakat. Awalnya mereka hanya tahu lapis legit Surabaya. "Kami telah memperkenalkan talas Bogor kepada masyarakat dengan materi dari talas dan mereka semakin menyukai produk lapis buatannya ,” katanya.

Pada ketika perjuangan kecil semakin sulit , tantangan berikutnya yaitu administrasi sumber daya manusia. Dia banyak merekrut bawah umur yang tidak melanjutkan sekolah karena tidak mampu. Menurutnya , proporsi anak jalanan dan lulusan sekolah dasar dan menengah pertama yg menjadi karyawannya sebanyak 77%. Sisanya yaitu lulusan SMK dan ibu rumah tangga. "Kami ingin memberdayakan orang di sekitar yang memiliki potensi , tetapi tidak dapat bekerja di perusahaan formal karena terkendala rendahnya pendidikan ," kata Rizka.

Kendala ketika mengatur pekerja membuatnya hampir putus asa dan urusan ekonomi terancam bangkrut. Atas saran sobat , ia memutuskan untuk menggunakan layanan konseling administrasi reorganisasi. Hasil ini tidak hanya membantu untuk mengelola sumber daya insan , tetapi juga berhasil dalam mengelola kelangsungan produksi.

Ungkapan bahwa guru terbesar ialah pengalaman. "Kami mulai untuk memperbaiki organisasi dengan membuat SOP (prosedur operasi standar) , matriks kapasitas staf , dan KPI (key performance indicators) bagi karyawan. Semua kita lakukan dari pengalaman urusan ekonomi bakso ," ujar Rizka , yang juga sedang menyelesaikan tesis S-2 jurusan Bantuan Manajemen Agribisnis Bogor (IPB).

Pengalamannya sebagai karyawan di posisi manajer , mengajarkan bagaimana mengelola orang. Selain perbaikan administrasi dan membangun budaya kerja yang kondusif untuk 114 karyawan , Rizka juga bekerja efektif di semua bagian.

"Semuanya memiliki catatan. Misalnya , setiap 1 gram keju juga , berapa kali harga keju. Jika kita tidak memiliki catatan ibarat itu , maka bisa jadi duduk perkara baru." Dia selalu memegang sebuah prinsip , "Percaya baik namun pemeriksaan lebih baik" dalam memantau kinerja karyawan.

Keahliannya di bidang teknik listrik tidak sia-sia. Dia bisa merancang tenaga listrik dan pengaturan mereka sendiri untuk pabrik baru. Serta keahlian untuk melaksanakan aktivitas komputer , Rizka dapat merancang software khusus untuk melayani pelanggan sendiri.

Sebuah pelajaran didapatkan , Rizka mencoba untuk tidak menggunakan sumbangan untuk menambah modal perjuangan kecil miliknya. "Di masa lalu , kita diajarkan untuk mencari dana dengan menggunakan kartu kredit. Namun demikian terjerat sendiri. Setiap hari dikejar oleh penagih utang. Sekarang , urusan ekonomi murni menggunakan uang dari keuntungan. Saat ini , enggan menggunakan sumbangan kecuali untuk hipotek melalui toko atau pabrik ,” ujarnya.

Dari ukuran jumlah produk rumahan yang dihasilkan setiap hari , perusahaan modal kecil ini bisa mencapai 4.300 kotak per hari , dengan masing-masing dijual seharga 25 – 30 ribu. Dari bisnis modal 500 ribu , maka kini penjualan perusahaan mencapai miliaran rupiah per bulan. Ini belum memenuhi undangan pasar yang sangat tinggi. Itu sebabnya beliau memberlakukan pembelian terbatas kepada pelanggan , maksimal 5 kotak atau bahkan hanya 2 kotak pada tamat pekan. "Pagi gres buka pribadi ludes terjual dan gres buka lagi jam 2 siang. Itupun ada pelanggan tak kebagian ," kata Rizka , menyesalkan.

Berikut ini yaitu hukum alam , urusan ekonomi yang sukses akan selalu diikuti oleh pesaing. Sekarang ada delapan kompetitor/pesaing kudapan manis lapis Bogor. "Namun saya tidak takut bersaing dari kualitas produk dan pelayanan ," katanya , yang produknya telah disertifikasi halal oleh P-IRT (Produksi Pangan Industri Rumahan).

Kerjasama dengan IPB , ia juga berbagi produk menjadi lebih sehat , tanpa materi pengawet dan kebersihan dipertahankan. Rizka juga berusaha mencapai kapasitas produksi hingga 12 ribu per harinya di tahun ini.

Anda ingin menambah penghasilan Anda? Memulai kerja sampingan dari rumah bisa menjadi solusi. Ibu juga punya banyak waktu untuk lebih akrab dengan bayi. Berikut yaitu hal-hal untuk perhatian Anda.


1. Pilih kepentingan urusan ekonomi dan kemampuan yang tepat. Dengan rasa cinta atau antusiasme maka uang akan mengikuti. Menggali minat dan kemampuan sebagai dasar dan ketentuan untuk memulai bisnis.

2. Mengidentifikasi bagaimana pasar. Jika pangsa pasar yaitu berskala kecil , maka Anda dapat menjual dengan memperlihatkan rujukan produk. Jika jangkauan pemasaran lebih luas , Anda dapat menggunakan jaringan sosial.

3. Menggunakan ekuitas. Ketika memulai perjuangan rumahan yang menjanjikan , Anda dapat menggunakan bukan modal utang. Sumber modal bisa diperoleh dari penjualan aset berharga yg menganggur di rumah.

4. Buat pembukuan sederhana. Pembukuan harus dilakukan secara teratur dan rapi tersimpan dalam komputer dan penyimpanan. Tidak sedikit ibu rumah tangga yg memiliki usaha modal kecil di rumah , sering lalai melakukannya sehingga bisnisnya tidak menguntungkan karena tidak ada administrasi yang bagus.

5. Pisahkan antara rekening tabungan rumah tangga dan bisnis. Ketika memulai sebuah perjuangan , membuat sebuah rekening bank untuk urusan ekonomi secara terpisah. Anda bisa mulai dengan saldo 1 juta dan jangan gunakan uang ini untuk kebutuhan atau pengeluaran pribadi. [sumber dan foto: http://wanitawirausaha.femina.co.id/].


EmoticonEmoticon